Bangun Pendidikan di Perbatasan!

Salah satu persoalan yang memicu polemik di perbatasan tak lepas dari dunia pendidikan. Selama ini pemerintah terkesan tidak memerhatikan pendidikan di kawasan perbatasan RI-Malaysia, di Kalimantan Barat.

Perbatasan Harus Kuat

Perbatasan : pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih karena dimensi yang terlibat cukup kompleks, seperti pertahanan-keamanan, ekonomi, dan sosial budaya

Perbatasan Harus Sejahtera

Anggapan yang menyedihkan : Malaysia selama ini mengelola wilayah perbatasan secara lebih baik dibanding Indonesia

Selamatkan Perbatasan

Wilayah perbatasan : merujuk pada problematika masyarakat di wilayah perbatasan yang didominasi oleh minimnya infrastruktur dan rendahnya tingkat ekonomi warga

Showing posts with label sejarah. Show all posts

Indonesia dan Malaysia Satu Titik di Pulau Sebatik

Pulau Sebatik (google maps)
Pulau Sebatik adalah sebuah pulau kecil di sebelah timur laut Kalimantan, merupakan salah satu Kecamatan dari Kabupaten Nunukan. Kabupaten Nunukan merupakan salah satu wilayah perbatasan strategis karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Secara administratif,   Pulau Sebatik merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia.

Pulau Sebatik langsung berbatasan daratan dengan Malaysia, yang wilayahnya terbagi menjadi 2 (dua) bagian, sebagian wilayah merupakan daerah wilayah Negara Malaysia dan sebagian masuk dalam wilayah Indonesia. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar yang menjadi prioritas utama pembangunan karena perbatasan langsung dengan negara tetangga. Program utama yang perlu dilakukan di Pulau Sebatik antara lain adalah pembangunan sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan pariwisata serta peningkatan hukum dan pengawasan keamanan.

Dalam Buku Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan Negara, Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau terluar yang menjadi prioritas utama pembangunan karena berbatasan langsung dengan negara tetangga. Di Pulau Sebatik terdapat titik dasar CTD.036 dan titik referensi CTR.036.

ADMINISTRATIF
Pulau Sebatik termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Sebatik.  Kecamatan ini adalah kecamatan paling Timur dari Kabupaten Nunukan, Propinsi Kalimantan Timur. Sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Nunukan, kecamatan Sebatik termasuk di dalamnya Pulau Sebatik mempunyai luas wilayah sekitar 247,47 km2. Dasar pembentukan Kecamatan Sebatik terkait dengan Undang-undang Nomor 47 Tahun 1999 tentang pemekaran Kabupaten Bulungan di Provinsi Kalimantan Timur. Secara administrasi, pusat pemerintahan Kabupaten Nunukan terletak di Kota Nunukan dengan kewenangan pemerintahan mencakup Kecamatan Sebatik yang terdiri dari empat desa, yaitu Desa Tanjung Karang sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Sebatik, Desa Pancang, Desa Sungai Nyamuk, Desa Tanjung Aru, dan Desa Setabu.  Pusat kegiatan perekonomian terpusat di Desa Sungai Nyamuk.

KONDISI GEOGRAFIS
Pulau Sebatik terletak di Selat Makasar pada koordinat 04o 10’ 00’’ LU - 4o 01’ 37” LU dan 117° 41’ 05” BT - 117o 55’ 56” BT.  Aktifitas sosial ekonomi penduduk telah berkembang baik di pulau ini. Secara geografis, Kecamatan Sebatik di  sebelah Utara garis lintang 4o 10’ 05” LU, berbatasan langsung dengan Negara Malaysia bagian timur, sebelah Selatan garis lintang 4o 01’ 37” LU, berbatasan langsung dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau, Kaltim, sebelah Barat garis bujur 117° 41’  05” BT, berbatasan langsung dengan Negara Malaysia Timur dan Kabupaten Nunukan, dan sebelah Timur garis bujur 117o 55’ 56” BT, berbatasan dengan laut Sulawesi.

AKSESIBILITAS
Akses menuju ke Pulau Sebatik dapat dilakukan menggunakan transportasi udara dan dilanjutkan melalui transportasi laut. Jalur transportasi udara dilalui melalui jalur penerbangan Balikpapan - Kota Tarakan (pp) dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan dengan jenis pesawat berbadan lebar dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, dan jalur penerbangan Kota Tarakan - Kabupaten Nunukan (pp) dapat ditempuh dalam waktu 0,5 jam dengan penerbangan reguler (3 kali sehari). Perjalanan dari Kota Tarakan juga dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi laut yaitu menggunakan kapal cepat dengan jalur pelayaran dari Kota Tarakan ke Kabupaten Nunukan pulang pergi atau Kota Tarakan – Pulau Sebatik pulang pergi setiap sehari.  Apabila menggunakan kapal perintis, perjalanan hanya sampai di Pelabuhan Nunukan, kapal-kapal tersebut  adalah KM. Kerinci, KM.Gunung Awu, KM. Umsini, KM. Agomas, KM. Telaga Fitma, Samarinda Express dan Balikpapan Express.  Dari Kota Nunukan untuk menyeberang ke Pulau Sebatik dapat menggunakan perahu motor tempel atau speed boat yang membutuhkan waktu 10-15 menit.  Perjalanan menuju pusat Kecamatan Sebatik yaitu Sungai Nyamuk dapat menggunakan speed boat membutuhkan waktu 1,5 jam, sedangkan perjalanan melalui darat membutuhkan waktu 3-4 jam karena kondisi jalan yang belum baik. Kondisi jalan Pulau Sebatik terbagi atas jalan yang telah diaspal sepanjang 12 km dari Desa Pancang hingga Desa Tanjung Karang, Jalan yang berbatu sepanjang 48 km di Desa Tanjung Karang dan Desa Setabu, dan terakhir jalan tanah sepanjang 47,7 km di lima desa yang ada.
________________________________________
Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan
Secara umum, masyarakat Sebatik memiliki stratifikasi sosial meski tidak didasarkan pada superioritas kelompok atas etnis tertentu. Pranata sosial terbentuk dari hasil integrasi berbagai kepentingan kelompok, terutama masyarakat Sulawesi dari berbagai etnis dan suku Tidung. Status suku Tidung dalam eksploitasi sumberdaya alam hanya sebagai buruh.
________________________________________
Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

TERUMBU KARANG
Terumbu karang merupakan suatu ekosistem khas yang terdapat di wilayah pesisir dan laut tropis. Pada dasarnya terumbu terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium (CaCo3) yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan Zooxantellae dan sedikit tambahan dari algae berkapur. Pengamatan kondisi karang dilakukan dengan menggunakan metode Transek Kuadrat.  Penentuan stasiun pengamatan didasarkan pada informasi yang didapat dari nelayan setempat, bahwa terumbu karang hanya ada di daerah sekitar pesisir Batu Lamampu.

Kondisi perairan cukup keruh, dengan sedimentasi yang cukup tinggi dan dengan dasar perairan pasir berlumpur. Kondisi penutupan karang berdasarkan penutupan total karang keras dan karang lunak berada pada kondisi buruk, dengan penutupan sebesar 24,10 %.  Komponen abiotik yaitu pasir berlumpur dan pecahan karang sangat tinggi persentase penutupannya, yaitu masing-masing sebesar 26,3 % dan 26 %.  Sedangkan beberapa jenis alga dan sponges menutupi wilayah ini sebesar 3 % dan 6 %.

Berdasarkan indeks struktur komunitas, indeks keanekaragaman (H’) berada pada kategori sedang yaitu 1,0213.  Indeks keseragaman berada pada kategori sedang (0,6907), Indeks dominansi (C’) berada pada kategori rendah (0,5312), hal ini menggambarkan tidak adanya dominansi oleh bentuk pertumbuhan karang tertentu di semua stasiun pengamatan.

MANGROVE
Hutan mangrove (hutan bakau) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur, berlempung atau berpasir. Hutan mangrove ditemukan di daerah pantai yang terlindung dan di muara sungai dengan ekosistem yang khas, sedangkan di pantai-pantai curam yang berdinding batu tidak ditumbuhi mangrove.

Ekosistem hutan bakau di Sebatik menyebar tidak merata di seluruh pantai dan pesisir. Keberadaan hutan bakau terutama ditemui di pantai yang mempunyai topografi dangkal dan terlindung. Hutan bakau dapat ditemui mulai dari pantai utara bagian utara dan selatan pulau.  Beberapa jenis pohon bakau yang umum dijumpai di Pulau Sebatik adalah bakau (Rhizophora spp), api-api (Avicennia spp), tanjung (Bruguiera spp), tengar (Ceriops spp) dan buta-buta (Exoecaria spp).

Luas hutan mangrove di Kecamatan Sebatik 2.981 hektar, dan yang dimanfaatkan menjadi tambak seluas 114 ha dan saat ini sebagian besar tidak dikelola.  Kendala utama pengelolaan tambak di Pulau Sebatik adalah ketersediaan air tawar. Beberapa lokasi yang terlindung di sekitar hutan mangrove dengan kedalaman air yang memadai dapat dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya laut seperti jenis kerang (Ostrea dan Anadara) dengan sistem rakit dan ikan kakap menggunakan keramba jaring apung disekitar pantai Bambangan, Liang Bunyu, Matingkas, hingga sebelum Batu Lemampu. Di daerah Bambangan banyak ditemukan mangrove dengan jenis Rhizophora spp, di Desa Liang Bunyu jenis Bruquiera spp, dan di Desa Tembaring dan di Desa Setabu jenis Avicenia spp. Sebagian besar mangrove yang ada dikawasan tersebut telah di konversi menjadi lahan tambak, dimana beberapa lahan tambak tersebut kemudian terlantar dan ditinggalkan.  Pola seperti ini hanya bertujuan sebagai

PERIKANAN
Ikan karang (ikan-ikan yang berasosiasi dengan karang) yang menghuni perairan sekitar Kecamatan Pulau Sebatik pada umumnya terdiri dari ikan hias dan ikan karang konsumsi. Jenis-jenis ikan karang hias yang banyak dijumpai di perairan sekitar Pulau Sebatik adalah seperti ikan badut/giru (Amphiprion accoelaris dan A, clarki), ikan sersan (Abudefduf bengalensis, A. lorentzi, A. septemfasciatus, A, sexatilis dan A, sexfasciatus), ikan betok (Chromis, Cinerascens, C, viridis, C, weberi), ikan kakaktua (Scarus ghobban), ikan okpis (Bodianus mesothorax), ikan tringger (Rhinechantus verrucosus), ikan pakol (Arothron immaculatus), ikan einjel (Pomacanthus anularis), ikan kepe-kepe (Chaetodon, Adiergatos, C, baronessa, C. octofasciatus, Cheilmon rostrarus), ikan layaran (Heniochus acuminatus).

Beberapa jenis ikan karang konsumsi yang banyak dijumpai adalah dari jenis ikan kerapu ( Chomileptes altivelis, Ephinephelus fuscoguttatus), ikan kakap (Lutjanus decussatus), ikan baronang (Siganus coralinus, S. dolainus), ikan ekor kuning (Caesio kuning), ikan tanda-tanda (Luiyanus Fulvilamma), ikan pari bintik biru (Halichoeris centriquadrus), ikan gitaran (Rhynchobatus djiddesis), ikan pari (Rhinotera javanica) dan beberapa jenis ikan konsumsi lainnya.

Perairan Sebatik termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) IV Selat Makassar dan Laut Arafura serta WPP VII Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Perairan Laut Sulawesi diperkirakan mempunyai potensi udang sekitar 2.500 ton/tahun, sedangkan potensi ikan demersal dan pelagis mencapai 54.860 ton/tahun. Sampai saat ini, pemanfaatan sumberdaya udang telah mencapai batas MSY, sedangkan tingkat pemanfaatan ikan pelagis dan demersal sekitar 61% (DKP dan LIPI, 2001). Di WPP IV, peluang pengembangan untuk pemanfaatan sumberdaya ikan masih terbuka untuk ikan pelagis besar dan pelagis kecil, sementara WPP VII masih terbuka peluang untuk pemanfaatan ikan pelagis kecil, ikan demersal, ikan karang dan lobster.

Potensi sumberdaya perikanan tangkap di Perairan Nunukan diperkirakan cukup besar meliputi potensi ikan demersal, udang dan ikan pelagis kecil yang tersebar di sekitar Pulau Bukat, Pulau Sebatik, Pulau Nunukan dan Pulau Sekapal. Menurut laporan hasil pendaratan ikan di PPI Sebatik pada saat sebelum berdirinya Kabupaten Nunukan, yaitu tahun 1998 produksi rata-rata perikanan tangkap per bulan mencapai 203,88 ton, produksi rata-rata dapat mencapai 2.446,56 ton/tahun dan udang mencapai 91,09 ton. Menurut data Statistik Perikanan dan Kelautan Kabupaten Nunukan sampai pada akhir tahun 2003, produksi perikanan tangkap  adalah 6.522,45 ton per tahun, dan produksi tangkapan diperairan umum mencapai 71,16 ton per tahun. Potensi sumberdaya ikan berkaitan erat dengan kondisi perairan Pulau Sebatik, ikan-ikan pelagis ekonomis yang menjadi sasaran penangkapan yaitu ikan tongkol (Euthynnus spp), ikan tenggiri papan (scomberomus commersonni), ikan lemuru (sardinelia longiceps), ikan tembang (Sardinelia fimbriata), ikan parang-parang (Chirocentus dorap), ikan alu-alu (Spyraenal spp), ikan kembung (Rastralinger spp) dan berbagai jenis ikan pelagis lainnya. Sedangkan untuk ikan demersal antara lain adalah ikan bawal hitam (Pormis niger), ikan bawal putih (Pampus argenteus), ikan manyung (Arias talasimus), ikan gerot-gerot (Pamatiasis maculatus), ikan kurisi (Neniteus nematop), udang putih, udang barong dan jenis udang lainnya. Nilai produksi tertinggi dari beberapa jenis ikan hasil tangkapan di Kabupaten Nunukan adalah ikan bawal hitam, kuro, bawal putih, arut, senangin putih, belanak dan parang.   Nilai jual ikan ini dipengaruhi oleh sistem dan rantai perdagangan di Sebatik yang sangat dekat dengan pusat penjualan ikan di Tawao Malaysia.

POTENSI WISATA
Aktivitas periwisata sudah sewajarnya didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Untuk mewujudkan hal tersebut, di Kabupaten Nunukan telah dibangun hotel-hotel sebagai tempat peristirahatan bagi wisatawan baik asing maupun domestik. Sampai ahkir tahun 2004 jumlah hotel di Kabupaten Nunukan mencapai 24 hotel yang tersebar di 5 kecamatan yakni Krayan 2 hotel, Sembakung 2 hotel, Nunukan 14 hotel, Sebatik 4 hotel dan Sebuku 3 hotel.

Sebagian besar wistawan asing yang berkunjung ke Kabupaten Nunukan berasal dari Malaysia dan Filipina. Pada tahun 2004 jumlah wisatawan dengan visa yang berasal dari malaysia mencapai 363 pengunjung sedangkan wisatawan asal eropa menacapai 52 orang dengan rincian 38 pengunjung dengan visa dan 14 pengunjung tanpa visa. Kegiatan priwisata di Kecamatan Sebatik sendiri belum begitu berkembang.  Setidaknya ada 6 obyek wisata yang dapat dijadikan sebagai lokasi wisata di Sebatik yang telah diagendakan oleh Dinas Pariwisata.  Daerah pantai yang layak di jadikan sebagai lokasi adalah di Sungai Taiwan, karena memiliki pantai dengan pasir berwarna kuning.  Selain itu juga ada lokasi wisata di pedalaman seperti wisata air terjun, dan wisata dikawasan mangrove.  Daerah yang menjadi target pemgembangan pariwisata adalah di Pantai Batu Lemampu dan Liang Bunyu.
________________________________________
Sumberdaya Non Hayati
________________________________________
Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya
________________________________________
Lingkungan
FISIOGRAFI DAN TOPOGRAFI
Topografi Pulau Sebatik cukup bervariasi berdasarkan bentuk relief, kemiringan lereng dan ketinggian dari permukaan laut. Topografi sebagian besar wilayah Pulau Sebatik mempunyai ketinggian antara 0-500 meter dari permukaan laut (dpl),  dimana 10 % wilayah dengan ketinggian 0-50 m dpl, 75 % wilayah dengan ketinggian 50-150 m dpl,  dan 15 % wilayah dengan ketinggian 150-500 m dpl. Ketinggian maksimum terdapat di pegunungan tengah Pulau Sebatik yaitu 500 m dpl.
Bentuk lahan atau topografi Kecamatan Sebatik bervariasi terdiri atas daerah cekungan (daerah pasang surut, rawa-rawa, endapan pantai, laut), teras laut dan dataran, perbukitan, daerah bergelombang dan bergunung.  Dataran pantai mempunyai kemiringan lereng sebesar kurang dari 2 %, wilayah cekungan (rawa dan teras laut)  dengan kemiringan 2-25 %, daerah perbukitan dan pegunungan tengah dengan kemiringan lereng 25-40 %. Wilayah pesisir pantai Pulau Sebatik didominasi oleh vegetasi mangrove, sedangkan wilayah pegunungan dibagian tengah ditumbuhi oleh hutan sekunder dan sebagian dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan.

KLIMATOLOGI
Pulau Sebatik memiliki iklim yang sama dengan iklim di Propinsi Kalimantan Timur yaitu adanya musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November sampai dengan bulan April. Keadaan ini terus berlangsung setiap tahun yang diselingi oleh musim peralihan. Selain itu, karena terletak di daerah katulistiwa maka iklim di Pulau Sebatik dipengaruhi oleh angin Muson, yaitu angin Muson Barat pada November-April dan angin Muson Timur pada Mei-Oktober.  Pulau sebatik secara umum beriklim panas dengan suhu udara rata-rata 27,8 oC, suhu terendah 22,9 oC pada bulan Agustus dan tertinggi 33,0 oC pada bulan April. Kelembaban udara berkisar antara 44 persen – 100 persen, dengan kecepatan angin rata-rata 0,5 knots. Penyinaran matahari rata-rata 58,5 persen, terendah 44 persen pada bulan Juni dan tertinggi 76 persen pada bulan April.  Berdasarkan data stasiun klimatologi periode 1998-2000, curah hujan rata-rata 2.280 mm/tahun dengan bulan basah terjadi pada bulan Mei, Juni, Oktober ,Desember (curah hujan > 200 mm/bulan) dan tanpa bulan kering (< 100 mm/bulan).  Di luar bulan-bulan tersebut curah hujan berkisar 100-200 mm/bulan.

OSEANOGRAFI
Kondisi oseanografi di wilayah Sebatik cukup bervariasi. Kondisi pasang surut di pesisir Pulau Sebatik termasuk pasang surut campuran, cenderung bersifat harian ganda (mixed prevailing semi diurnal) dengan 2 kali pasang dan 2 kali surut dalam sehari dengan amplitudo dan periode pasang surut yang berbeda serta tunggang air (tidal range) maksimum 2,8 m. Kecepatan arus maksimum di perairan pesisir Pulau Sebatik terjadi pada saat pergerakan pasang surut terbesar, yaitu saat neap tide dan spring tide, dengan kecepatan arus rata-rata 87,5-102 cm/detik, arah arus pasang mencapai 250o-333o dan arah surut 36o-130o. Kecepatan arus rata-rata akibat densitas air laut sebesar 8,5-10,7 cm/detik dengan arah 15o-33o saat spring tide dan arah 65o-82o saat neap tide. Kecepatan arus ini semakin mengecil seiring dengan bertambahnya kedalaman perairan.
________________________________________
Sarana dan Prasarana
Listrik
Kebutuhan listrik di Pulau Sebatik dipenuhi dari PLTD yang disuplai dari Nunukan untuk Sebatik Selatan. Sedangkan untuk Sebatik Utara dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Hidro (PLTMH)

Telepon
Prasarana dan Sarana Perekonomian
Pasar (6), Toko/Kios (257), Warung Makan (21), Hotel/Penginapan (4), Wartel (3), dan Bank (3)

Transportasi dan Komunikasi
Prasarana transportasi yang tersedi di kecamatan Sebatik sampai tahun 2007 terdiri dari 1 buah pelabuhan speed boat yang melayani ke Kota Tarakan dan Kota Tawau, Malaysia dengan jumlah kapal yang lambat untuk pelayaran dalam negeri berjumlah 1.146 dan pelayaran luar negeri berjumlah 102.

Untuk sarana perhubungan udara belum tersedia karena bandara terdekat ada di Ibukota Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan yang relatif masih bisa dijangkau oleh masyarakat Kecamatan Sebatik. Dari data Dispenda Kaltim unit pembantu UPTD Nunukan di Sebatik mencatat jumlah kendaraan terbanyak yaitu sepedah motor sebanyak 767 unit, bus/mini bus 31 unit, pick up 13 unit, dan truck 6 unit. Untuk data panjang jalan yang ada tahun 2005 sedangkan tahun 2006 belum tersedia datanya.
Sarana komunikasi pada kantor pos Indonesia Sebatik surat yang dikirim sebanyak 6.536 pucuk surat sedangkan surat yang diterima sebanyak 8.748 di kecamatan sebatik terdapat 4 buah wartel. Pelanggan Telkom sebanyak 345 SST yang menikmati sarana komunikasi.
________________________________________
Peluang Investasi
________________________________________
Potensi dan Arahan Pengembangan

Pengembangan yang perlu dilakukan di Pulau Sebatik antara lain pengembangan dan pengelolaan sektor unggulan di Pulau Sebatik, yaitu sektor pertanian dan perkebunan, serta sektor perikanan (budidaya dan tangkap), melalui pengembangan teknologi budidaya, pengolahan pasca panen, penyediaan sarana dan prasarana, pemberdayaan masyarakat, akses permodalan usaha, pengembangan mata pencarian alternatif, dan perluasan akses pasar, dan pengembangan pariwisata bahari, melalui penyediaan sarana dan infrastruktur serta peningkatan promosi yang lebih baik; juga Peningkatan penegakan hukum dan pengawasan yang dilakukan secara kolektif.

Sumber : http://www.ppk-kp3k.kkp.go.id/direktori-pulau/index.php/public_c/pulau_info/297

Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Lebih Dekat dengan Maluku Utara

Artikel Sebelumnya : Profil Maluku Utara. Jika dilihat dalam peta dan dalam jarak yang sebenarnya, jarak dari Jakarta ke Ternate, ibukota Provinsi Maluku memang jauh sekali. Ketika dilihat dari google maps jaraknya lebih dari 3.000 KM, dan tentunya tak bisa mencapai sana jika melalui jalur darat. Bisa jalur laut atau udara.

Namun, jarak itu tak membuat kita enggan mengenal provinsi yang ada dalam uang seribu ini. Karena kita masih Indonesia. Maluku Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia. Provinsi yang biasa disingkat sebagai Malut ini terdiri dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku.

Ibukota sementara provinsi ini adalah Ternate. Sofifi, yaitu sebuah kelurahan di kecamatan Oba Utara, adalah ibukota definitif provinsi Maluku Utara. Rencananya setelah infrastruktur pemerintahan dan fasilitas lainnya dibangun, aktivitas pemerintahan akan dipindahkan dari Ternate ke daerah ini.

Kondisi Geografis
Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,32 km². Sebagian besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas 106.977,32 km² (76,27%). Sisanya seluas 33.278 km² (23,73%) adalah daratan.

Pulau-Pulau
Provinsi Maluku Utara terdiri dari 395 pulau besar dan kecil. Pulau yang dihuni sebanyak 64 buah, yang tidak dihuni sebanyak 331 buah.
Pulau Halmahera (18.000 km²)
Pulau Cibi (3.900 km²)
Pulau Talabu (3.195 km²)
Pulau Bacan (2.878 km²)
Pulau Morotai (2.325 km²)
Pulau Ternate
Pulau Makian
Pulau Kayoa
Pulau Gebe


Sejarah
Sebelum Penjajahan
Daerah ini pada mulanya adalah bekas wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara yang dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku), yaitu:
Kesultanan Bacan
Kesultanan Jailolo
Kesultanan Tidore
Kesultanan Ternate.


Pendudukan Militer Jepang
Pada era ini, Ternate menjadi pusat kedudukan penguasa Jepang untuk wilayah Pasifik.

Zaman Kemerdekaan

Orde Lama
Pada era ini, posisi dan peran Maluku Utara terus mengalami kemorosotan, kedudukannya sebagai karesidenan sempat dinikmati Ternate antara tahun 1945-1957. Setelah itu kedudukannya dibagi ke dalam beberapa Daerah Tingkat II (kabupaten).

Upaya merintis pembentukan Provinsi Maluku Utara telah dimulai sejak 19 September 1957. Ketika itu DPRD peralihan mengeluarkan keputusan untuk membentuk Provinsi Maluku Utara untuk mendukung perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat melalui Undang-undang Nomor 15 Tahun 1956, namun upaya ini terhenti setelah munculnya peristiwa pemberontakan Permesta.

Pada tahun 1963, sejumlah tokoh partai politik seperti Partindo, PSII, NU, Partai Katolik dan Parkindo melanjutkan upaya yang pernah dilakukan dengan mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-Gotong Royong (DPRD-GR) untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi Maluku Utara. DPRD-GR merespons upaya ini dengan mengeluarkan resolusi Nomor 4/DPRD-GR/1964 yang intinya memberikan dukungan atas upaya pembentukan Provinsi Maluku Utara. Namun pergantian pemerintahan dari orde lama ke orde baru mengakibatkan upaya-upaya rintisan yang telah dilakukan tersebut tidak mendapat tindak lanjut yang kongkrit.


Orde Baru
Pada masa Orde Baru, daerah Moloku Kie Raha ini terbagi menjadi dua kabupaten dan satu kota administratif. Kabupaten Maluku Utara beribukota di Ternate, Kabupaten Halmahera Tengah beribukota di Soa Sio, Tidore, dan Kota Administratif Ternate beribukota di Kota Ternate. Ketiga daerah kabupaten/kota ini masih termasuk wilayah Provinsi Maluku.


Orde Reformasi
Pada masa pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, muncul pemikiran untuk melakukan percepatan pembangunan di beberapa wilayah potensial dengan membentuk provinsi-provinsi baru. Provinsi Maluku termasuk salah satu wilayah potensial yang perlu dilakukan percepatan pembangunan melalui pemekaran wilayah provinsi, terutama karena laju pembangunan antara wilayah utara dan selatan dan atau antara wilayah tengah dan tenggara yang tidak serasi.

Atas dasar itu, pemerintah membentuk Provinsi Maluku Utara (dengan ibukota sementara di Ternate) yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 tentang Pemekaran Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negera Nomor 3895).

Dengan demikian Provinsi ini secara resmi berdiri pada tanggal 12 Oktober 1999 sebagai pemekaran dari Provinsi Maluku dengan wilayah administrasi terdiri atas Kabupaten Maluku Utara, Kota Ternate, dan Kabupaten Maluku Utara.

Selanjutnya dibentuk lagi beberapa daerah otonom baru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Sula Kepulauan, dan Kota Tidore.


Kabupaten dan Kota
No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Halmahera Barat/Jailolo
2 Kabupaten Halmahera Tengah/Weda
3 Kabupaten Halmahera Utara/Tobelo
4 Kabupaten Halmahera Selatan/Labuha
5 Kabupaten Kepulauan Sula/Sanana
6 Kabupaten Halmahera Timur/Maba
7 Kabupaten Pulau Morotai/Morotai Selatan
8 Kota Ternate -
9 Kota Tidore Kepulauan


Dasar hukum:
UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003

Tanggal penting:
4 Oktober 1999 (hari jadi)

Ibu kota:
Ternate

Gubernur:
Thaib Armain

Luas:
140.255,32 km² (total); 33.278 km² (daratan); 106.977,32 km² (lautan)

Penduduk:
970.443 (2005)

Kepadatan:
29

Kabupaten:
6

Kota:
2

Kecamatan:
45

Kelurahan/Desa:
730

Suku:
Suku Module, Suku Pagu, Suku Ternate, Suku Makian Barat, Suku Kao, Suku Tidore, Suku Buli, Suku Patani, Suku Maba, Suku Sawai, Suku Weda, Suku Gne, Suku Makian Timur, Suku Kayoa, Suku Bacan, Suku Sula, Suku Ange, Suku Siboyo, Suku Kadai, Suku Galela, Suku Tobelo, Suku Loloda, Suku Tobaru, Suku Sahu

Agama:
Islam (76,1%), Protestan (23,1%), Lainnya (0,8%)


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku_Utara
http://infomalukuutara.blogspot.com/

Sumber Gambar:
http://www.cps-sss.org/web/images/provinsi/maluku_utara.png
http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku_Utara Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Pulau Terluar : Pulau Rondo

Pulau Rondo (http://www.ppnsi.org/)
PULAU RONDO (Salah Satu Pulau Pulau Kecil Terluar di NAD)

Oleh: Tonny F. Kurniawan

Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Pulau Rondo
a. Letak geografis
Pulau Rondo terletak di ujung utara Sumatera, dan merupakan pulau terluar yang berbatasan dengan negara India. Posisi Pulau Rondo sangat strategis, yaitu di ujung barat Indonesia dan merupakan jalur pelayaran internasional. Secara geografis, pulau Rondo berada pada 06° 04’ 30” - 95° 06’ 45” BT. Pulau ini merupakan salah satu pulau kecil yang ada di wilayah Kabupaten Sabang, selain Pulau Weh, Klah, Rubiah dan Seulako.

Jarak Pulau Rondo dengan Kota Sabang 15,6 km, dengan Kelurahan Iboih 9,3 km, dan dengan Kelurahan Ujung Ba’u 4,8 km. Luas Pulau Rondo 0,4 km2, dapat dicapai dengan kapal motor dari Kelurahan Ujung Ba’u selama 40 menit, dari Kelurahan Iboih 1,5 jam dan dari Kota Sabang 1,75 jam.
Pulau Rondo termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Ujung Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi NAD. Pulau ini tidak dihuni secara tetap, tetapi secara bergantian oleh Marinir dan petugas jaga mercusuar. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 177 dan titik referensi (TR) no. 177 dan sebuah mercusuar.

b. Topografi
Pulau karang yang berbentuk bulat ini memiliki topografi berbukit (bentuk Kount), dengan ketinggian yang rendah. Bentuk lahan pulau ini berupa perbukitan denudasional terkikis ringan dan terumbu paparan pelataran yang ada di perairan sekelilingnya. Kondisi pantai terjal dan berbatu sehingga agak sulit didarati dari arah laut. Letaknya yang berada di laut lepas dengan arus dan gelombang yang relatif lebih besar menyebabkan pulau ini rawan abrasi. Elevasi ketinggian Pulau Rondo antara 0 – 35 m di atas permukaan laut (dpl).

c. Litologi
Secara litologi, Pulau Rondo pada umumnya sama dengan Pulau Weh, yaitu tersusun dari tufa andesit dan batuan sedimen hasil letusan gunung berapi. Pada daerah pantai dan sebagian besar dataran pesisir serta lahan terbuka umumnya mempunyai struktur yang bercampur dengan pasir serta banyak batu-batu besar.

d. Klimatologi
Secara umum iklim Pulau Rondo termasuk kedalam iklim tropis. Data iklim yang bersumber dari stasiun Meteorologi dan Geofisika Sabang, menunjukkan bahwa curah hujan mencapai 2.130,8 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 149 hari/tahun. Kondisi temperatur harian di sekitar Pulau Rondo berkisar 21,5°C-30,5°C, Sedangkan kecepatan angin mencapai 10,8 knot, dengan arah angin terbanyak menuju arah barat.

e. Kondisi Perairan
Pulau Rondo merupakan pulau terluar yang berada di bagian barat laut Pulau Weh. Kondisi perairan pulau ini jernih dengan ombak yang relatih lebih tinggi dari pada perairan pulau lainnya. Arus di daerah perairan pulau ini berasal dari barat (Samudera Hindia) bergerak menuju timur dan sebagian dibelokan ke utara, dengan kecepatan mencapai 0,65 m/detik.
Parameter fisik perairan Pulau Rondo yaitu sebagai berikut : warna <>
Potensi Sumberdaya Alam Pulau Rondo
a. Sumberdaya Perikanan
Perairan pulau ini memiliki kekayaan hayati yang melimpah, antara lain terumbu karang dan berbagai jenis ikan, baik ikan hias maupun ikan ekonomis seperti tuna (Thunnus Sp.), tenggiri (Scomberomorus commersoni), lemuru (Sardinella longiceps), kakap (Lutjanus Sp.), kembung (Rastrelliger Sp.), tembang, dan kerapu. Di perairan ini terkadang dijumpai ikan hiu, yang menjadikan Pulau Rondo sebagai daerah penangkapan ikan (Fishing Ground). Kondisi ini didukung adanya proses Up welling akibat pertemuan arus dari utara dan selatan, yang menyebabkan banyak terakumulasinya berbagai jenis ikan.
b. Vegetasi
Pulau Rondo merupakan pulau yang bervegetasi cukup lebat. Sebagian besar lahan berupa hutan tropika basah (dengan vegetasi pohon, semak dan herba). Berbagai jenis vegetasi diantaranya pohon kelapa (terutama di pinggir pantai), cengkeh, buah-buahan, kayu ketapang, gelumpang, kayu laut, medang dan lagan.
c. Terumbu Karang dan Biota Penghuninya
Pulau Rondo memiliki berbagai jenis tutupan terumbu karang. Jenis karang yang dominan berupa karang keras (Hard Coral) 32,3%, jenis lainnya yaitu karang mati (Dead Coral) 19,6%, dan karang lunak (Soft Coral) 2,6%.
Kelimpahan biota yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang dasar perairan Pulau Rondo didominasi oleh kelompok ikan yang berukuran > 1 inch, Jenis lainnya yaitu Bulu Babi/sea urchins (Diadema sp.), ikan berukuran <>
Faktor penyebab kerusakan karang yang dominan terjadi disebabkan antara lain jangkar kapal nelayan (26,7%), perubahan suhu (kelantang ) 16,7%, pembentukan massa putih (white band) 13,3%, kerusakan lain 10%, ledakan bom 6,7%, dan penyakit karang 3,3%. Berdasarkan kegiatan observasi langsung di lapangan dan informasi dari masyarakat bahwa ekosistem mangrove dan padang lamun belum pernah ditemukan di sekitar pulau Rondo.

Kondisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Infrastruktur
a. Sosial Budaya
Di sekitar Pulau Rondo yang tak berpenghuni ini kegiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ujung Ba’u dan masyarakat daerah lain adalah mencari ikan. Daerah tangkapannya tidak jauh dari pulau tersebut karena mesin kapal nelayan belum mampu melewati gelombang yang besar hingga batas Laut Andaman.

b. Posisi dalam Pelayaran Regional
Pulau Rondo merupakan salah satu pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan India dan Thailand. Di pulau ini terdapat mercusuar yang dijaga secara bergantian oleh petugas mercusuar dan terdapat titik referensi (TR) dan titik dasar (TD) yang terdaftar dalam PP No. 38 Th 2002.

Posisi Rondo ini sangat strategis karena berada pada jalur pelayaran antara 2 (dua) benua yaitu Asia dan Eropa, sehingga memberikan arti penting bagi terbukanya berbagai peluang maupun ancaman dari luar. Salah satu ancaman yang serius adalah illegal fishing oleh nelayan asing. Hal ini disebabkan pula oleh masih tradisionalnya alat tangkap yang digunakan oleh nelayan setempat.

Dengan ditetapkannya Sabang dan Aceh sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di ujung barat Indonesia, mengakibatkan semakin banyaknya volume pelayaran di perairan ini. Sehingga keberadaan pulau memerlukan pengawasan yang lebih intensif, agar keberadaannya tidak diklaim secara sepihak oleh negara lain.

Perkembangan perundingan bilateral antara RI-India yang telah dilakukan:
1. Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen RI - India di Jakarta tanggal 8 Agustus 1974 (diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 51 Tahun 1974 tanggal 25 September 1974), terdiri dari 4 (empat) titik koordinat (titik 1 – 4).
2. Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen RI - India (perpanjangan Garis Batas Landas Kontinen tahun 1974) dilakukan di New Delhi tanggal 14 Januari 1977, terdiri dari 9 (sembilan ) titik koordinat :
a. Laut Andaman 4 (empat) titik koordinat
b. Samudera Hindia 5 (lima) titik koordinat.
(diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 26 Tahun 1977,
tanggal 04 April 1977).

c. Transfortasi dan Aksesibilitas
Pulau Rondo dapat diakses dengan menggunakan kapal motor dari Kelurahan Ujung Ba’u selama 40 menit, dari Kelurahan Iboih 1,5 jam dan dari Kota Sabang 1,75 jam. Untuk mencapai pulau ini sangat mudah melalui beberapa jalur dengan menggunakan berbagai macam sarana transportasi.

Sumber : http://www.ppnsi.org/
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Pulau Terluar : Pulau Berhala


Pulau Berhala (id.wikipedia.org)

Pulau Berhala adalah sebuah pulau di Jambi, Indonesia. Pulau ini merupakan pulau terluar Indonesia di Selat Malaka, Pulau yang kaya akan hutan akar bahar ini menyimpan berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) dalam radius 200 M dari bibir pantai yang tidak kurang dari 22 spesies dan jenis ikan karang dapat terlihat dari 11 spesies, bila anda menyelam kesana. Luasnya adalah 2,5 km². Berhala memiliki topografi bergunung dengan hutan lebat dan pantai yang putih bersih. Pada awal dan akhir tahun, pantai Pulau Berhala menjadi tempat persinggahan penyu untuk bertelur. Pulau yang kaya akan hutan akar bahar ini menyimpan berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) dalam radius 200 M dari bibir pantai yang tidak kurang dari 22 spesies dan jenis ikan karang dapat terlihat dari 11 spesies, bila anda menyelam kesana.

Nama pulau Berhala ini diambil dari nama raja Jambi dahulu yaitu Datuk Paduko Berhala yang makamnya terdapat di pulau itu.

Pulau Berhala cukup unik di lihat dari namanya saja sudah memberi kesan tersendiri. Luas pulau berkisar 2,5 Hektar. Kondisi pulau sangat alami dan belum memiliki penduduk. Saat ini pulau di jaga oleh Tentara Nasional Indonesia Angakatan Laut

Saat ini sudah terdapat fasilitas berupa resort, pemancingan, wahana untuk permainan laut maupun Hotel untuk para wisatawan yang berkunjung ke sana.


Selain Pulau Berhala di Sumatra Utara, ada lagi empat pulau dengan nama yang sama. Satu di Indonesia, sedangkan tiga lainnya di Malaysia. Pulau kedua yang berada di Indonesia terletak di Selat Berhala, dekat Kepulauan Riau. Di sekelilingnya, terdapat tiga pulau kecil dengan luas sekitar 0,25 hingga 0,5 hektare. Pulau ini diperebutkan provinsi Jambi dan Riau.

Tiga pulau lainnya milik Malaysia masing-masing terletak di dekat Sandakan, sebelah utara Kalimantan, di dekat Johor, dan di Perak (bernama Batuan Berhala).

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Berhala

Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Daerah Terluar : Pulau Sekatung


Pulau Sekatung (natuna.org)

Pulau Sekatung adalah pulau mungil yang berbatasan langsung dengan Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Luas daratan pulau ini hanya sekitar 1,65 kilometer persegi. ”Dari Pulau Sekatung, kita lebih dekat ke Ho Chi Minh City (Vietnam) daripada ke Jakarta yang berjarak 1.000 kilometer lebih. Penghuninya terdiri dari 5 KK, ditambah pengamanan dari 2 personil divisi navigasi, 1 Kompi Satgas Marinir. Pulau ini juga bagian dari 12 pulau – pulau kecil yang secara administratif masuk ke wilayah Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri, berdasarkan Keppres R.I. Nomor 78 tahun 2005. Pulau Sekatung termasuk dalam 12 pulau terluar yang memerlukan penanganan khusus.
Mengingat letak geografisnya, tidak pelak Pulau Sekatung bernilai strategis. Pulau ini, bersama pulau terluar lain, menjadi titik dasar dari garis pangkal kepulauan yang menentukan wilayah perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen Indonesia. Sederhananya, Pulau Sekatung penting karena membentuk batas wilayah kedaulatan Indonesia.Meski bernilai sangat strategis, Pulau Sekatung baru berpenghuni pada 2007. Waktu itu, Pemerintah Kabupaten medirikan lima rumah untuk ditempati lima keluarga. Tak lama kemudian ditempatkan satu peleton pasukan TNI Angkatan Darat di pulau itu. Mereka memiliki pos penjagaan di area puncak bukit Pulau Sekatung. Pos ini menghadap ke Pulau Laut, bukan ke arah perbatasan dengan negara asing.
Dengan dikelilingi air laut yang masih bening, Pulau Sekatung sangat indah. Udaranya pun segar dan bebas polusi. Terumbu Karang Pulau Sekatung dikelilingi gugusan terumbu karang yang cukup lebar. Jarak antara batas daratan dengan bibir karang di bagian tenggara pulau tersebut mencapai 2 km. Pada saat surut terendah, sebagian areal perairan dangkal tersebut akan kering, kecuali bagian cekungan yang merupakan alur keluar masuk perahu atau kapal nelayan. Pada saat pasang dan digenangi air, ditemukan beberapa biota diantaranya penyu sisik, beberapa gerombolan ikan hias dan anakan ikan baronang. Terumbu karang ditemukan pada kedalaman 3-5 meter dengan persentase penutupan terumbu karang sekitar 9%. Genus-genus karang yang ditemukan di Pulau Sekatung adalah Porites, Acropora, Favites, Goniopora, Fungia, Pocillopora, Favia, Lobophyllia, Stylophora, Astreopora, Montipora dan Galaxea.
Jenis pantai di Pulau Sekatung yaitu pantai bertebing curam dan vegetasi yang dominan terdapat di pulau ini adalah semak belukar berupa pohon hutan dengan kerapatan 5 s/d 10 individu/100m2 yang tumbuh. Sayangnya, pulau ini memiliki fasilitas yang minim sehingga tak nyaman dihuni. Kondisi Pulau Sekatung juga tidak memiliki sumber air bersih. Situasi ini membuat makin sedikit warga yang benar-benar tinggal di Pulau Sekatung.

Sumber : http://natuna.org/pulau-sekatung.html
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Profil Maluku Utara


Logo

Provinsi Maluku Utara terletak di antara 3o Lintang Utara 3o Lintang Selatandan 124o-129o Bujur Timur. Batas batas wilayah Provinsi Maluku Utara adalah sebagai berikut : Sebelah Utara Samudera Pasifik, Sebelah Timur Laut Halmahera, Sebelah Barat Laut Maluku, Sebelah Selatan Laut Seram. Luas wilayah Provinsi Maluku Utara tercatat 140.366,32 km2. Yang terdiri dari luas daratan mencapai 33.413,53 km2 dan luas lautan mencapai 106.952,79 km2.

Wilayah Provinsi Maluku Utara yang beribukota di Ternate terbagi dalam 6 kabupaten dan 2 kota, yaitu Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Kota Ternate, dan Kota Tidore. Kabupaten Halmahera Selatan merupakan wilayah dengan luas terbesar yaitu 40.376,89 Km2, sementara Kota Tidore merupakan wilayah dengan luas terkecil yaitu 6.090,40 Km2.

View Larger Map
Pada Tahun 2007 kelembaban Udara di Provinsi Maluku Utara berkisar antara 81% sampai Dengan 87% dengan rata-rata perbulan mencapai 84%, dengan curah hujan antara 191,3 mm3 dan tekanan udara selama Tahun 2007 sekitar 1.010,3 MB. Rata-rata suhu udara selama Tahub 2007 mencapai 26,7o C dengan rata-rata suhu udara maksimum 30,7o C dan minimumnya yaitu 23,9o C.

Struktur ekonomi Provinsi Maluku Utara pada tahun 2008 didominasi sektor Pertanian (34,79%), Pengolahan (14,81%) dan Perdagangan (24,76%). Pada sektor pertanian kontribusi sub sektor pertanian Ubi Kayu menjadi yang terbesar, diikuti oleh padi, kacang tanah, kedelai, ubi jalar dan jagung. Untuk sektor pengolahan. Sektor perdagangan kontribusi sub sektor perdagangan besar dan eceran mempunyai andil terbesar, diikuti oleh restoran dan hotel.

Komoditi unggulan Provinsi Maluku Utara yaitu sektor pertanian dan jasa. Sektor pertanian komoditi unggulannya adalah sub sektor tanaman perkebunan dengan komoditi Kakao, Kopi, Kelapa, Cengkeh, Jambu Mete, Kapuk, Kayu manis, lada, pala, dan vanili. Sub sektor perikanan komoditi yang diunggulkan berupa perikanan Tangkap, budidaya jaring apung, budidaya keramba, budidaya kolam, budidaya laut, dan budidaya tambak. Pariwisatanya yaitu wisata alam dan budaya.

Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di provinsi ini tersedia 9 bandar udara, yaitu Bandara Babullah, Bandara bobong, bandara gamarmalamo, bandara kuabang, bandara mangole, bandara morortai, bandara oesman sadik, bandara sanana, dan bandara ship. Di Provinsi ini juga terdapat Tiga jalan, Yaitu jalan Negara, jalan kabupaten / kota dan jalan Provinsi. Panjang Jalan Provinsi adalah 1.867,03 km, panjang jalan kabupaten / kota adalah 3.280,76 km, dan panjang jalan negara adalah 458,21 km. Untuk transportasi laut tersedia 15 pelabuhan, antara lain Pelabuhan Bere-Bere, Pelabuhan Daruba, Pelabuhan Gebe, Pelabuhan Gita/Payahe, Pelabuhan Khusus PT. ANTAM UBPN Operasi Gebe, Pelabuhan Khusus PT. ANTAM UBPN Operasi GEE & Buli, Pelabuhan Labuha, Pelabuhan Laiwui, Pelabuhan Maffa, Pelabuhan Oba, Pelabuhan Saketa, Pelabuhan Sanana, Pelabuhan Soasio, Pelabuhan Ternate, dan Pelabuhan Tobelo.

Sumber Data:
Maluku Utara Dalam Angka 2008
(01-9-2007)
BPS Propinsi Maluku Utara

Updated: 17-6-2011

Sumber :
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Pulau Karimun Jawa



Taman Nasional Karimunjawa

Taman Nasional Karimunjawa merupakan gugusan 27 buah pulau yang memiliki tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah, padang lamun, algae, hutan pantai, hutan mangrove, dan terumbu karang.

Tumbuhan yang menjadi ciri khas Taman Nasional Karimunjawa yaitu dewodaru (Crystocalyx macrophyla) yang terdapat pada hutan hujan dataran rendah. Kelompok algae yang dapat dijumpai terdiri dari tiga kelompok yaitu algae hijau, algae coklat, dan algae merah. Hutan pantai dan hutan mangrove dicirikan dengan adanya ketapang (Terminalia cattapa), cemara laut (Casuarina equisetifolia), jati pasir (Scaerota frustescens), setigi (Strebus asper), waru laut (Hibiscus tiliaceus), dan bakau hitam (Rhizophora mucronata).

Jenis terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa merupakan terumbu karang pantai/tepi (fringing reef), terumbu karang penghalang (barrier reef) dan beberapa taka (patch reef). Kekayaan jenisnya mencapai 51 genus, lebih dari 90 jenis karang keras dan 242 jenis ikan hias. Dua jenis biota yang dilindungi yaitu akar bahar/karang hitam (Antiphates spp.) dan karang merah (Tubipora musica).

Biota laut lainnya yang dilindungi seperti kepala kambing (Cassis cornuta), triton terompet (Charonia tritonis), nautilus berongga (Nautilus pompillius), batu laga (Turbo marmoratus), dan 6 jenis kima.
Keanekaragaman satwa darat di taman nasional ini tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan satwa perairan. Satwa darat yang umum dijumpai antara lain rusa (Cervus timorensis subspec), kera ekor panjang (Macaca fascicularis karimondjawae); 40 jenis burung seperti pergam hijau (Ducula aenea), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), trocokan/merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), betet (Psittacula alexandri), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan ular edhor. Burung elang laut perut putih merupakan satwa yang terancam punah di dunia.
Di sekitar Pulau Kemujan terdapat bangkai kapal Panama INDONO yang tenggelam pada tahun 1955, dimana pada saat ini menjadi habitat ikan karang dan cocok untuk lokasi penyelaman (wreck diving).
Dari gugusan pulau-pulau yang berjumlah 27 buah, lima buah pulau diantaranya telah berpenghuni yaitu Pulau Karimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Nyamuk, dan Pulau Genting. Pulau Karimunjawa menjadi pusat kecamatan yang berjarak ± 83 km dari Kota Jepara (pusat pengrajin ukiran kayu yang terkenal di Indonesia).

Nama Karimunjawa berasal dari zaman Sunan Muria yaitu salah satu tokoh penyebar Agama Islam. Sunan Muria melihat pulau-pulau di Karimunjawa sangat samar dari Pulau Jawa (kremun-kremun soko Jowo). Peninggalan-peninggalan Sunan Nyamplungan/Amir Hasan (anak dari Sunan Muria) seperti ikan lele (Clarias meladerma) tanpa patil, makam Nyamplungan, kayu dewodaru, sentigi, kalimosodo, dan ular edhor, dikeramatkan oleh penduduk Karimunjawa.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

Pulau Menjangan Kecil, Menjangan Besar, Tanjung Gelam, Legon Lele, Genting, Kembar, Parang, Cemara dan Krakal. Wisata bahari seperti berlayar, selancar air, ski air, berenang, berjemur di pantai pasir putih, berkemah, wisata budaya, pengamatan rusa dan burung serta menyelam/snorkeling. Paket wisata untuk mengunjungi pulau-pulau tersebut dapat menghubungi biro perjalanan di Semarang/Jepara (tour satu sampai dengan tujuh hari).
Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Durian dan Lomban pada bulan Januari/Maret di Jepara.
Musim kunjungan terbaik: bulan April s/d Oktober setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi: Semarang-Jepara menggunakan bis selama 1,5 jam, Jepara (Pelabuhan Kartini) menuju Karimunjawa dengan naik Fery/kapal motor dengan lama perjalanan ± 6 jam, dan hanya ada satu kali dalam seminggu (Senin). Dari Semarang (Bandara Achmad Yani) menuju Pulau Kemujan (Bandar Dewodaru) dengan pesawat udara, sekali dalam seminggu (untuk sementara jalur penerbangan tersebut tidak diaktifkan).




Sumber : http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_karimun.htm
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Sejarah Tanah Papua

Nama asli pulau Papua masih tetap misterius hingga kini dan itulah sebabnya mengapa orang asing silih berganti memberi nama seenaknya saja. Sudah lebih dari selusin nama untuk pulau ini, khususnya Papua bagian Barat.

Pada sekitar Tahun 200 M , ahli Geography bernama Ptolamy menyebutnya dengan nama LABADIOS. Maksud apa disebut demikian, belum diketahui. Pada akhir tahun 500 M, pengarang Tiongkok bernama Ghau Yu Kua memberi nama TUNGKI, dan pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut nama Papua dengan menggunakan nama JANGGI.

Nama Tungki dan Janggi telah mengundang berbagai pendapat, kemungkinan nama TUNGKI yang sudah berubah dalam sebutannya menjadi Janggi atau sebaliknya. Pada akhir tahun 1300, Majapahit menggunakan dua nama, yakni WANIN dan SRAM. Nama Wanin, tentu tidak lain dari semenanjung Onin di daerah Fak-Fak dan SRAM, ialah pulau Seram di Maluku. Ada kemungkinan, budak yang dibawa dan dipersembahkan kepada Majapahit berasal dari Onin dan yang membawanya ke sana adalah orang Seram dari Maluku, sehingga dua nama ini disebut.

Tidore memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai PAPA-UA yang sudah beruba dalam sebutan menjadi PAPUA. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de Retes memberi nama NUEVA GUINEE dan ada pelaut lain yang memberi nama ISLA DEL ORO yang artinya Pulau Emas.

Rumah Awal
Nama Nueva Guinee kemudian di-Belanda-kan menjadi NIEUW GUINEA. Pada tahun 1956, Belanda merubah nama Niew Guinea menjadi NEDERLANDS NIEUW GUINEA. Perubahan nama Nieuw Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea mengandung maksud positif dan maksud negativ.

Positifnya ialah karena nama Nieuw Guinea sering dihubungkan dengan sejarah Hindia Belanda (Nederlands Indie) terutama pihak Indonesia sering menggunakan ini sebagai alasan menuntut Nieuw Guinea dari Belanda.

Negativnya ialah bahwa sebelum Nieuw Guinea dijual, lebih dahulu dijadikan milik Belanda. Hal ini terbukti kemudian bahwa Nederlands Nieuw Guinea bersama Nederlands Onderdaan yang hidup diatasnya dijual kepada Indonesia pada 1962. Belanda merasa berhak berbuat demikian karena sejak 1956, West Papua telah dijadikan miliknya.

Apa yang dilakukan Pemerintah Belanda dimasa itu, paralel dengan tindakan Synode Gereja Hervormd Belanda sebab pada tahun 1956 itu juga, melepaskan tanggung-jawabnya kepada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia.

Pada tahun 1961, Komite Nasional Papua yang pertama menetapkan nama PAPUA BARAT. Pada masa Pemerintahan Sementera PBB (UNTEA), menggunakan dua nama, WEST NEW GUINEA/WEST IRIAN.
Pada tanggal 1 Mei 1963, Republik Indonesia menggunakan nama IRIAN BARAT. Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah Revolusioner sementara Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan nama WEST PAPUA.

Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia di West Papua merubah nama IRIAN BARAT menjadi IRIAN JAYA. Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali menjadi Papua hingga kini.

Nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa Maluku Utara. Maksud sebenarnya bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah disini sebagai seorang bapak, itulah sebabnya pulau dan penduduknya disebut demikian.

Papa-Ua artinya anak piatu. Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA., karena rakyat disini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat (West Papua).

Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan bahwa penduduk pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau raja disini sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Tidak ada yang dipertuan untuk disembah dan tidak ada yang diperbudak untuk diperhamba. Raja-raja yang tumbuh seperti jamur di Indonesia, adalah akibat pengaruh pedagang bangsa Hindu dan Arab dimasa lampau.

Inilah sebabnya maka rakyat Papua anti kolonialisme, imperialisme dan neo-kolonialisme. Nenek moyang mereka tidak pernah menyembah-nyembah kepada orang lain, baik dalam lingkungan sendiri. Mereka lahir dan tumbuh diatas tanah airnya sendiri sebagai orang merdeka.

Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisiepo, almahrum, orang yang pertama mengumumkan nama ini pada konperensi di Malino-Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain berkata: “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).

Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro, bekas buangan Digul-Atas tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di Hollandia antara tahun 1945-1946.

Perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, terjadi pada tahun 1973, juga mengandung arti politik. Regiem Militer Indonesia tidak menginginkan adanya pembagian Pulau Papua menjadi dua dan berambisi guna menguasai seluruhnya. Pendirian ini berdasarkan pengalaman tetang adanya dua Vietnam-Selatan dan Utara, tentang adanya dua Jerman-Barat dan Timur, dan tentang adanya dua Korea-Selatan dan Utara. Irian Jaya, Irian yang dimenangkan. Jaya, victoria atau kemenangan. Jika huruf “Y” dipotong kakinya, maka akan terbaca Irian Java alias Irian Jawa.

sumber : hatta16.wordpress
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Insiden perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Insiden perbatasan Timor-Timur adalah insiden yang terjadi di perbatasan Timor Leste dengan Indonesia.

21 April 2005 - Lettu Teddy Setiawan ditembak mati polisi perbatasan Timor Leste.
6 Januari 2006 - Tiga penduduk NTT ditembak mati oleh polisi perbatasan Timor Leste.



Insiden 6 Januari 2006

Tiga orang yang dinyatakan sebagai warganegara Indonesia, Stanis Maubere, Jose Mausorte, dan Candido Mariano, terjadi pada pukul 11.45 WITA. Ketiganya sedang memancing bersama dua orang lainnya. Karena lapar, ketiga orang tersebut menyeberangi sungai dan menuju sebuah ladang jagung yang berada di wilayah Timor Timur untuk mengambil jagung. Saat sedang berada di sana, mereka dipergoki petugas kepolisian Timor Timur. Menurut versi Timor Timur, tiga orang tersebut berusaha merebut senjata polisi, namun beberapa saksi yang selamat mengatakan mereka langsung ditembak ketika dipergoki.

Salah satu korban, Jose Mausorte, ternyata kemudian diketahui sebagai warga Timor Timur sehingga jenazahnya tidak dikembalikan ke Indonesia.

sumber : wikipedia
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Kondisi Pulau Nipah Saat Kini


Kondisi Pulau Nipah Sebelum Reklamasi

Pulau Nipah atau Pulau Nipa (Peta Dishidros TNI-AL) atau Pulau Angup (sebutan penduduk sekitar) secara administratif berada di wilayah Desa Pemping, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Dengan luas wilayah 63 Ha (permukaan air laut terendah), 58 Ha (permukaan air laut rata-rata), dan 28 Ha (permukaan air laut tertinggi). Koordinat Pulau Nipah 103 39'04.68" - 103 39' 39.384" BT dan 1 8' 26.88" - 1 9' 12.204" LU.

Secara geologi Pulau Nipah diinterpretasikan kelanjutan gugusan pulau Batam-Rempang-Galang (BARELANG), khusunya Pulau Pemping, Pulau Kelapa Jerih, dan Pulau Bulan.
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Konfrontasi Perbatasan Indonesia - Malaysia


Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962 hingga 1966.
Perang ini berawal dari keinginan Federasi Malaya lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan Persetujuan Manila oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.[1][2]
Pelanggaran perjanjian internasional konsep THE MACAPAGAL PLAN antara lain melalui perjanjian Persetujuan Manila tanggal 31 Juli 1963, tanggal 3 Agustus 1963, tanggal 5 Agustus 1963[3] mengenai dekolonialisasi  yang harus mengikut sertakan rakyat Sarawak dan Sabah
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE