Bangun Pendidikan di Perbatasan!

Salah satu persoalan yang memicu polemik di perbatasan tak lepas dari dunia pendidikan. Selama ini pemerintah terkesan tidak memerhatikan pendidikan di kawasan perbatasan RI-Malaysia, di Kalimantan Barat.

Perbatasan Harus Kuat

Perbatasan : pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih karena dimensi yang terlibat cukup kompleks, seperti pertahanan-keamanan, ekonomi, dan sosial budaya

Perbatasan Harus Sejahtera

Anggapan yang menyedihkan : Malaysia selama ini mengelola wilayah perbatasan secara lebih baik dibanding Indonesia

Selamatkan Perbatasan

Wilayah perbatasan : merujuk pada problematika masyarakat di wilayah perbatasan yang didominasi oleh minimnya infrastruktur dan rendahnya tingkat ekonomi warga

Pada 2022 Ratusan Pulau di Kepri Lenyap?

MI/Hendri Kremer/fa
DAMPAK perubahan iklim tampaknya terus meluas. Lima persen atau 120 dari 2.408 pulau di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akan hilang pada 2022.

"Estimasi para ahli, dalam 10 tahun ke depan lima persen dari 2.408 pulau di Kepri akan hilang sebagai dampak perubahan iklim," kata pakar ilmu kelautan Eddywan, Sabtu (9/6).

Peraih gelar doktor ilmu kelautan dari Boston University Amerika Serikat itu mengatakan perubahan iklim yang dipicu pemanasan global menyebabkan es di kutub mencair, sehingga volume air laut bertambah dan menenggelamkan sebagian pulau di Kepri.

Untuk mencegah hilangnya pulau, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk meredam arus laut.

Satu di antaranya melakukan penghijauan di pantai, karena pohon dapat menahan gelombang air laut dan mencegah abrasi yang menyebabkan pulau terkikis dan lama-lama hilang.

Pohon juga dapat mengurangi pergerakan angin agar tidak berhembus terlalu kencang ke daratan. "Harus ada pengelolaan pulau yang bagus," kata dia. (Ant/OL-5)
Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/10/325147/89/14/120-Pulau-di-Kepri-bakal-Lenyap-pada-2022 Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Pulau Midai yang terancam hilang

Pulau Midai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. (istimewa)


Pulau Midai salah satu pulau terluar negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pulau yang terletak di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), berpotensi tinggi terhadap masalah abrasi pantai. Pulau Midai satu dari 141 pulau di Kepri, juga termasuk pulau perbatasan, akankah terhapus dari peta NKRI?

Betapa kekhawatiran akan terjadinya bencana selalu mengintai setiap saat. Di beberapa lokasi di Pulau Midai terkena kerusakan lingkungan akibat abrasi pantai.

Beberapa aktifitas ekonomi masyarakat turut memperparah kondisi alam Pulau Midai. Penambangan pasir tepat dibibir pantai berjalan pelan tapi pasti menggerus bibir pantai yang semakin naik ke daratan.

Pemerintah kabupaten Natuna sendiri sudah melakukan survei terhadap potensi bencana Pulau Midai. Melalui Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan masyarakat (Baskesbang) Natuna bekerja sama dengan Badan Geologi Bandung tahun 2011 melakukan pemetaan daerah rawan bencana di Kabupaten Natuna.

Hasilnya, khusus abrasi pantai di lokasi Suak Besar, kerusakan akibat abrasi sepanjang kurang lebih 500 m. Kedua, di lokasi pantai Kampung Sabang Muluk dan lokasi pantai yang berjarak satu kilometer ke arah timur termasuk Desa Air Kumpai. Kerusakan pantai sepanjang kurang lebih 200 m.

Hal ini disebabkan karena terlanda arus pasang surut dan gelombang pasang laut selama musim utara yang arahnya hampir tegak lurus menuju daratan. Abrasi tersebut telah mengikis dan merusak lahan perkebunan kelapa, sedangkan badan jalan masih cukup aman karena letaknya sekitar 10 m dari garis pantai. Namun, dikedua lokasi tersebut merupakan kondisi tahun 2011.

"Daratan hanya satu persen dari keseluruhan luas kabupaten Natuna," ujar Primul, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Barisan Pemuda Penyelamat Abrasi (BP2A) Kecamatan Pulau Midai.

Lembaga yang dipimpin Primul merupakan lembaga yang aktif melakukan penanaman pohon bakau di keliling Pulau Midai.

"Kami memiliki program satu juta pohon tahun 2012," kata Primul lagi.

Program satu juta pohon sudah dimulai sejak tahun 2008, yang permulaannya masih secara swadaya. Namun sekarang sudah dibantu oleh Pemkab Natuna.

"Hingga saat ini, tambahnya sudah mencapai 500.000 pohon bakau yang ditanam, namun hanya 350.000 yang tumbuh. Kami menanam di lima baris dari jarak aman garis pantai, sekitar 500 meter," jelas Primul.

Kondisi pantai yang sudah terkena abrasi di Pulau Midai menurutnya sudah ditingkat paling parah.

Setiap tahun Natuna dihantam gelombang musim utara yang mencapai tiga hingga empat meter, tidak terkecuali Pulau Midai yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan tanpa ada pelindung pulau lain ataupun batu-batu besar yang bisa memecah gelombang sebelum sampai ke bibir pantai.

Jadi, menurutnya tidak mustahil abrasi pantai akan terus berlangsung, apalagi didukung oleh aktivitas masyarakat yang menunjang abrasi pantai itu sendiri.

"Penambangan tradisional terhadap pasir di bibir pantai yang kini terus berlangsung turut merusak lingkungan. Di beberapa lokasi secara manual saja setiap tahun abrasi mencapai 20 cm," ujarnya.

Jika tidak dilakukan upaya-upaya lain oleh pihak berwenang, tidak mustahil Pulau Midai akan semakin berkurang luasnya dan akhirnya dapat ditebak bencana apa yang akan terjadi.

Diketahui dari survey Baskesbang, bentuk Pulau Midai hampir persegi panjang, panjang pulau (berarah barat-timur) kurang lebih tujuh km dan lebarnya rata-rata empat km.

Secara administratif, Pulau Midai terbagi atas satu kelurahan dan lima desa, yakni Kelurahan Sabang Barat, Desa Air Putih, Desa Sebelat, Desa Gunung Jambat, Desa Batu Belanak dan Desa Air Kumpai.

Secara morfologi pula, Pulau Midai merupakan pulau yang dibentuk oleh suatu tubuh gunung api, yaitu secara berangsur dari pedataran pantai yang relatif sempit hingga daerah perbukitan di bagian tengah pulau. Ketinggian daerah perbukitan berkisar dari beberapa puluh meter hingga 140 m.

Jenis kebencanaan yang terdapat di Kecamatan Midai adalah abrasi pantai dan longsor. Akibat longsor ini di dua areal tanah yang terjadi di Desa Air Putih. Telah mengakibatkan jalan desa sepanjang 10 m mengalami retak dan belah karena pondasi jalan ikut melongsor dan satu buah rumah penduduk yang berada pada kaki lereng perbukitan menjadi terancam.

Peringatan Hari Lingkungan sedunia yang jatuh tepat 5 Juni 2012 , Selasa United Nations Environment Programme (UNEP) mengangkat tema "Green economy: does it onclude you".

Sementara dalam sambutan Hari Lingkungan se-dunia, Menteri Negara Lingkungan Hidup (Meneg LH), Balthasar Kambuaya menekankan pentingnya pelaksanaan ekonomi hijau oleh semua orang sesuai dengan proporsinya masing-masing baik pada tingkatan global, nasional hingga individu. Kunci dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup adalah peran serta dari semua komponen masyarakat.

Mengutip sambutan Meneg LH itu, patutlah kiranya menjadi renungan dalam lingkup aktivitas masyarakat di Pulau Midai terkait penambangan pasir tepat di bibir pantai. Karena dalam kenyataannya aktivitas ekonomi ini penyumbang dalam abrasi pantai yang akan merusak lingkungan.

Belum lagi, mengingat letaknya yang unik, Pulau Midai terpaksa menerima hantaman gelombang musim utara setiap tahunnya yang juga menjadi bahaya langganan untuk abrasi pantai.

Tanggapan serius datang pula dari warga Pulau Midai yang kini memegang amanah sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Natuna, Hadi Chandra.

Chandra mengakui jika abrasi Pulau Midai berada ditingkat paling parah, senada dengan survei Baskesbang bahwa Pulau Midai berpotensi tinggi terhadap masalah abrasi pantai.

"Untuk itu kami sudah membicarakan dengan pihak-pihak terkait dan akan memasukkan kegiatan pemecah ombak di APBD-P tahun 2012 ini," ungkapnya.

Akan dipasang batu-batu besar di titik-titik tertentu dari sekitar pantai hingga mengarah ke laut, dalam artian mengembalikan ke kondisi awal Pulau Midai, dimana dulu banyak batu-batu besar sebagai pemecah ombak.

Sementara terkait aktivitas masyarakat, menambang pasir di bibir pantai Chandra memberikan solusi untuk mengambil pasir ke laut untuk keperluan material bangunan di Pulau Midai.

"Tetapi, apapun kondisinya Pulau Midau harus mendapat perhatian dari pemerintah dalam hal ini bupati Natuna dan jajarannya agar kerusakan lingkungan tidak semakin berat," harapnya.

"Jika memang setiap tahun daratan terkikis 20 centimeter, bukan tidak mungkin ramalan Pulau Midai akan hilang benar," ujarnya mengusik ketenangannya sebagai warga asli Pulau Midai dengan suara sedikit pelan.

(E012)

Editor: Ella Syafputri
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Kondisi Laut Batam Aman

Laporan - Danlanal Batam: Laut Batam Aman, Bebas dari Perompak

SEJAK ditingkatkannya intensitas dan volume patroli serta peningkatan SDM untuk mobilisasi dalam rangka pengamanan di laut,maka  laut Batam saat ini benar-benar aman.Perompak dapat dijamin tidak akan mudah lagi beroperasi di jalur laut yang padat kegiatan ekonomi ini.

Jalur padat  dan sempit ini, dahulu memang sangat dikenal dengan perompakannya,namun sekarang hal itu tidak ada lagi.Seiring dengan  peningkatan keamanan di laut yang dilakukan oleh kapal Patroli TNI AL.Terutama LANAL Batam, sehingga di wilayah ini yang disibukkan setiap hari dengan angkutan kapal-kapal komersiel, aman dari gangguan rompak laut.

Oleh sebab itu, kegiatan ekonomi di darat akan semakin stabil dan aman. "Investasi yang masuk ke Batam seperti barang-barang eksport dan import sudak tidak perlu dikhawatir lagi. Kalau dulu  di sekitar Singapura, Selat Philip, dan Selat Singapura badan-badan maritim internasional sering memberi peringatan kepada pengelola pelayaran untuk mewaspadai jalur itu, karena bahaya perompakan maka sekarang aman." kata Danlanal Batam Kolonel (P) Nurhidayat SH pada majalahpotretindonesia.com di ruang kerjanya belum lama berselang.

Disebutkan Danlanal, bahwa keamanan di laut Batam dapat dijamin. Perompak tak akan diberi celah sedikitpun untuk bergerak.

Dalam perbincangan santai  itu, orang nomor satu di Lanal Batam, yang wilayahnya persis berada di garda terdepan dengan Negara tetangga Singapura, dan hanya beberapa mil saja jaraknya, menjamin penuh rasa aman di laut Batam. "Saya jamin laut Batam aman, semua kita layari dengan baik," ungkapnya.

Berdasarkan catatan majalahpotretindonesia.com, mmeningkatkan  keamanan pelayaran di sekitar  Batam atau lebih luasnya lagi di sekitar  Selat Malaka,kini telah ada  kerja sama multi parti Patroli Terkoordinasi Keamanan Selat Malaka oleh Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, telah disusun dan dilaksanakan pengamanan bersama di selat yang menguasai 70 persen volume perdagangan dunia itu.

Keberadaan TNI-AL yang memiliki jajaran operasional di dekat perairan Batam, tak dapat disangsikan lagi peran sertanya dalam penjagaan dan pengamanan laut di kawasan ini dan selat terpenting didunia ini.Namun kordinasi antar Negara yang berdekatan dan pihak keamanan mereka harus saling dukung.Bila laut aman,investasi aman.Rakyat akan dapat manfaatnya, sebab barang-barang yang dipakai sehari-hari mayoritas diimport dan disekport via laut.Jadi jadikan laut aman.(arin/yahya).

Sumber : http://www.majalahpotretindonesia.com/
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Indonesia Termasuk Paling Aktif Menjaga Perdamaian Dunia

TNI
JAKARTA, KOMPAS.com — Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Rabu (16/5/2012), akhirnya resmi ditetapkan menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia atau New 7 Wonders of Nature oleh New 7 Wonders Foundation.

"Keberhasilan Taman Nasional Komodo menjadi contoh inspiratif bagaimana sebuah masyarakat dapat bersama-sama berusaha melindungi sebuah spesies yang hampir punah," kata Presiden New 7 Wonders Foundation Bernard Weber dalam rilis persnya.

Weber mengatakan, jumlah suara melalui pesan singkat yang sangat besar menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah mengekspresikan kebanggaan pada warisan alam, yang juga merupakan bagian dari mozaik dunia.

Duta Besar Komodo dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Komodo Kita Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa proses penetapan Taman Nasional Komodo sebagai "New 7 Wonders of Nature" memakan waktu lebih dari lima bulan untuk klarifikasi dan penghitungan.

"Saya berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang dengan setia telah mengirimkan pesan singkat," kata Kalla.

Selain Taman Nasional Komodo, enam keajaiban lain yang terpilih adalah Halong Bay, Iguazu Falls, Jeju Island, Puerto Princesa Underground River, Table Mountain, dan Amazon (masih dalam proses klarifikasi).

Sumber :  kompas.com
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Pulau Terluar : Pulau Rondo

Pulau Rondo (http://www.ppnsi.org/)
PULAU RONDO (Salah Satu Pulau Pulau Kecil Terluar di NAD)

Oleh: Tonny F. Kurniawan

Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Pulau Rondo
a. Letak geografis
Pulau Rondo terletak di ujung utara Sumatera, dan merupakan pulau terluar yang berbatasan dengan negara India. Posisi Pulau Rondo sangat strategis, yaitu di ujung barat Indonesia dan merupakan jalur pelayaran internasional. Secara geografis, pulau Rondo berada pada 06° 04’ 30” - 95° 06’ 45” BT. Pulau ini merupakan salah satu pulau kecil yang ada di wilayah Kabupaten Sabang, selain Pulau Weh, Klah, Rubiah dan Seulako.

Jarak Pulau Rondo dengan Kota Sabang 15,6 km, dengan Kelurahan Iboih 9,3 km, dan dengan Kelurahan Ujung Ba’u 4,8 km. Luas Pulau Rondo 0,4 km2, dapat dicapai dengan kapal motor dari Kelurahan Ujung Ba’u selama 40 menit, dari Kelurahan Iboih 1,5 jam dan dari Kota Sabang 1,75 jam.
Pulau Rondo termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Ujung Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi NAD. Pulau ini tidak dihuni secara tetap, tetapi secara bergantian oleh Marinir dan petugas jaga mercusuar. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 177 dan titik referensi (TR) no. 177 dan sebuah mercusuar.

b. Topografi
Pulau karang yang berbentuk bulat ini memiliki topografi berbukit (bentuk Kount), dengan ketinggian yang rendah. Bentuk lahan pulau ini berupa perbukitan denudasional terkikis ringan dan terumbu paparan pelataran yang ada di perairan sekelilingnya. Kondisi pantai terjal dan berbatu sehingga agak sulit didarati dari arah laut. Letaknya yang berada di laut lepas dengan arus dan gelombang yang relatif lebih besar menyebabkan pulau ini rawan abrasi. Elevasi ketinggian Pulau Rondo antara 0 – 35 m di atas permukaan laut (dpl).

c. Litologi
Secara litologi, Pulau Rondo pada umumnya sama dengan Pulau Weh, yaitu tersusun dari tufa andesit dan batuan sedimen hasil letusan gunung berapi. Pada daerah pantai dan sebagian besar dataran pesisir serta lahan terbuka umumnya mempunyai struktur yang bercampur dengan pasir serta banyak batu-batu besar.

d. Klimatologi
Secara umum iklim Pulau Rondo termasuk kedalam iklim tropis. Data iklim yang bersumber dari stasiun Meteorologi dan Geofisika Sabang, menunjukkan bahwa curah hujan mencapai 2.130,8 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 149 hari/tahun. Kondisi temperatur harian di sekitar Pulau Rondo berkisar 21,5°C-30,5°C, Sedangkan kecepatan angin mencapai 10,8 knot, dengan arah angin terbanyak menuju arah barat.

e. Kondisi Perairan
Pulau Rondo merupakan pulau terluar yang berada di bagian barat laut Pulau Weh. Kondisi perairan pulau ini jernih dengan ombak yang relatih lebih tinggi dari pada perairan pulau lainnya. Arus di daerah perairan pulau ini berasal dari barat (Samudera Hindia) bergerak menuju timur dan sebagian dibelokan ke utara, dengan kecepatan mencapai 0,65 m/detik.
Parameter fisik perairan Pulau Rondo yaitu sebagai berikut : warna <>
Potensi Sumberdaya Alam Pulau Rondo
a. Sumberdaya Perikanan
Perairan pulau ini memiliki kekayaan hayati yang melimpah, antara lain terumbu karang dan berbagai jenis ikan, baik ikan hias maupun ikan ekonomis seperti tuna (Thunnus Sp.), tenggiri (Scomberomorus commersoni), lemuru (Sardinella longiceps), kakap (Lutjanus Sp.), kembung (Rastrelliger Sp.), tembang, dan kerapu. Di perairan ini terkadang dijumpai ikan hiu, yang menjadikan Pulau Rondo sebagai daerah penangkapan ikan (Fishing Ground). Kondisi ini didukung adanya proses Up welling akibat pertemuan arus dari utara dan selatan, yang menyebabkan banyak terakumulasinya berbagai jenis ikan.
b. Vegetasi
Pulau Rondo merupakan pulau yang bervegetasi cukup lebat. Sebagian besar lahan berupa hutan tropika basah (dengan vegetasi pohon, semak dan herba). Berbagai jenis vegetasi diantaranya pohon kelapa (terutama di pinggir pantai), cengkeh, buah-buahan, kayu ketapang, gelumpang, kayu laut, medang dan lagan.
c. Terumbu Karang dan Biota Penghuninya
Pulau Rondo memiliki berbagai jenis tutupan terumbu karang. Jenis karang yang dominan berupa karang keras (Hard Coral) 32,3%, jenis lainnya yaitu karang mati (Dead Coral) 19,6%, dan karang lunak (Soft Coral) 2,6%.
Kelimpahan biota yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang dasar perairan Pulau Rondo didominasi oleh kelompok ikan yang berukuran > 1 inch, Jenis lainnya yaitu Bulu Babi/sea urchins (Diadema sp.), ikan berukuran <>
Faktor penyebab kerusakan karang yang dominan terjadi disebabkan antara lain jangkar kapal nelayan (26,7%), perubahan suhu (kelantang ) 16,7%, pembentukan massa putih (white band) 13,3%, kerusakan lain 10%, ledakan bom 6,7%, dan penyakit karang 3,3%. Berdasarkan kegiatan observasi langsung di lapangan dan informasi dari masyarakat bahwa ekosistem mangrove dan padang lamun belum pernah ditemukan di sekitar pulau Rondo.

Kondisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Infrastruktur
a. Sosial Budaya
Di sekitar Pulau Rondo yang tak berpenghuni ini kegiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ujung Ba’u dan masyarakat daerah lain adalah mencari ikan. Daerah tangkapannya tidak jauh dari pulau tersebut karena mesin kapal nelayan belum mampu melewati gelombang yang besar hingga batas Laut Andaman.

b. Posisi dalam Pelayaran Regional
Pulau Rondo merupakan salah satu pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan India dan Thailand. Di pulau ini terdapat mercusuar yang dijaga secara bergantian oleh petugas mercusuar dan terdapat titik referensi (TR) dan titik dasar (TD) yang terdaftar dalam PP No. 38 Th 2002.

Posisi Rondo ini sangat strategis karena berada pada jalur pelayaran antara 2 (dua) benua yaitu Asia dan Eropa, sehingga memberikan arti penting bagi terbukanya berbagai peluang maupun ancaman dari luar. Salah satu ancaman yang serius adalah illegal fishing oleh nelayan asing. Hal ini disebabkan pula oleh masih tradisionalnya alat tangkap yang digunakan oleh nelayan setempat.

Dengan ditetapkannya Sabang dan Aceh sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di ujung barat Indonesia, mengakibatkan semakin banyaknya volume pelayaran di perairan ini. Sehingga keberadaan pulau memerlukan pengawasan yang lebih intensif, agar keberadaannya tidak diklaim secara sepihak oleh negara lain.

Perkembangan perundingan bilateral antara RI-India yang telah dilakukan:
1. Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen RI - India di Jakarta tanggal 8 Agustus 1974 (diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 51 Tahun 1974 tanggal 25 September 1974), terdiri dari 4 (empat) titik koordinat (titik 1 – 4).
2. Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen RI - India (perpanjangan Garis Batas Landas Kontinen tahun 1974) dilakukan di New Delhi tanggal 14 Januari 1977, terdiri dari 9 (sembilan ) titik koordinat :
a. Laut Andaman 4 (empat) titik koordinat
b. Samudera Hindia 5 (lima) titik koordinat.
(diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 26 Tahun 1977,
tanggal 04 April 1977).

c. Transfortasi dan Aksesibilitas
Pulau Rondo dapat diakses dengan menggunakan kapal motor dari Kelurahan Ujung Ba’u selama 40 menit, dari Kelurahan Iboih 1,5 jam dan dari Kota Sabang 1,75 jam. Untuk mencapai pulau ini sangat mudah melalui beberapa jalur dengan menggunakan berbagai macam sarana transportasi.

Sumber : http://www.ppnsi.org/
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE