Bangun Pendidikan di Perbatasan!

Salah satu persoalan yang memicu polemik di perbatasan tak lepas dari dunia pendidikan. Selama ini pemerintah terkesan tidak memerhatikan pendidikan di kawasan perbatasan RI-Malaysia, di Kalimantan Barat.

Perbatasan Harus Kuat

Perbatasan : pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih karena dimensi yang terlibat cukup kompleks, seperti pertahanan-keamanan, ekonomi, dan sosial budaya

Perbatasan Harus Sejahtera

Anggapan yang menyedihkan : Malaysia selama ini mengelola wilayah perbatasan secara lebih baik dibanding Indonesia

Selamatkan Perbatasan

Wilayah perbatasan : merujuk pada problematika masyarakat di wilayah perbatasan yang didominasi oleh minimnya infrastruktur dan rendahnya tingkat ekonomi warga

Profil Maluku Utara


Logo

Provinsi Maluku Utara terletak di antara 3o Lintang Utara 3o Lintang Selatandan 124o-129o Bujur Timur. Batas batas wilayah Provinsi Maluku Utara adalah sebagai berikut : Sebelah Utara Samudera Pasifik, Sebelah Timur Laut Halmahera, Sebelah Barat Laut Maluku, Sebelah Selatan Laut Seram. Luas wilayah Provinsi Maluku Utara tercatat 140.366,32 km2. Yang terdiri dari luas daratan mencapai 33.413,53 km2 dan luas lautan mencapai 106.952,79 km2.

Wilayah Provinsi Maluku Utara yang beribukota di Ternate terbagi dalam 6 kabupaten dan 2 kota, yaitu Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Kota Ternate, dan Kota Tidore. Kabupaten Halmahera Selatan merupakan wilayah dengan luas terbesar yaitu 40.376,89 Km2, sementara Kota Tidore merupakan wilayah dengan luas terkecil yaitu 6.090,40 Km2.

View Larger Map
Pada Tahun 2007 kelembaban Udara di Provinsi Maluku Utara berkisar antara 81% sampai Dengan 87% dengan rata-rata perbulan mencapai 84%, dengan curah hujan antara 191,3 mm3 dan tekanan udara selama Tahun 2007 sekitar 1.010,3 MB. Rata-rata suhu udara selama Tahub 2007 mencapai 26,7o C dengan rata-rata suhu udara maksimum 30,7o C dan minimumnya yaitu 23,9o C.

Struktur ekonomi Provinsi Maluku Utara pada tahun 2008 didominasi sektor Pertanian (34,79%), Pengolahan (14,81%) dan Perdagangan (24,76%). Pada sektor pertanian kontribusi sub sektor pertanian Ubi Kayu menjadi yang terbesar, diikuti oleh padi, kacang tanah, kedelai, ubi jalar dan jagung. Untuk sektor pengolahan. Sektor perdagangan kontribusi sub sektor perdagangan besar dan eceran mempunyai andil terbesar, diikuti oleh restoran dan hotel.

Komoditi unggulan Provinsi Maluku Utara yaitu sektor pertanian dan jasa. Sektor pertanian komoditi unggulannya adalah sub sektor tanaman perkebunan dengan komoditi Kakao, Kopi, Kelapa, Cengkeh, Jambu Mete, Kapuk, Kayu manis, lada, pala, dan vanili. Sub sektor perikanan komoditi yang diunggulkan berupa perikanan Tangkap, budidaya jaring apung, budidaya keramba, budidaya kolam, budidaya laut, dan budidaya tambak. Pariwisatanya yaitu wisata alam dan budaya.

Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di provinsi ini tersedia 9 bandar udara, yaitu Bandara Babullah, Bandara bobong, bandara gamarmalamo, bandara kuabang, bandara mangole, bandara morortai, bandara oesman sadik, bandara sanana, dan bandara ship. Di Provinsi ini juga terdapat Tiga jalan, Yaitu jalan Negara, jalan kabupaten / kota dan jalan Provinsi. Panjang Jalan Provinsi adalah 1.867,03 km, panjang jalan kabupaten / kota adalah 3.280,76 km, dan panjang jalan negara adalah 458,21 km. Untuk transportasi laut tersedia 15 pelabuhan, antara lain Pelabuhan Bere-Bere, Pelabuhan Daruba, Pelabuhan Gebe, Pelabuhan Gita/Payahe, Pelabuhan Khusus PT. ANTAM UBPN Operasi Gebe, Pelabuhan Khusus PT. ANTAM UBPN Operasi GEE & Buli, Pelabuhan Labuha, Pelabuhan Laiwui, Pelabuhan Maffa, Pelabuhan Oba, Pelabuhan Saketa, Pelabuhan Sanana, Pelabuhan Soasio, Pelabuhan Ternate, dan Pelabuhan Tobelo.

Sumber Data:
Maluku Utara Dalam Angka 2008
(01-9-2007)
BPS Propinsi Maluku Utara

Updated: 17-6-2011

Sumber :
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Pulau Rote : Surga Peselancar di Tapal Batas Selatan Indonesia


Pulau Rote selain dikenal sebagai wilayah paling selatan Indonesia juga memiliki kekhasan budidaya lontar, alat musik sasando, topi adat ti’i langga, juga wisata bahari terutama olahraga selancar.
Pulau Rote telah dikenal peselancar dunia sebagai lokasi sempurna dan menantang untuk menjajal gulungan ombaknya yang spektakuler. Pantai Bo’a adalah salah satu tempat para peselancar dunia biasa mengikuti lomba tingkat internasional.
Rote adalah kecantikan yang sulit dicari padanannya, jika saja Rote ini letaknya di dekat Bali  pasti turis asing akan berebut mengunjunginya.
Pulau Rote yang tegak berdiri di batas paling selatan Nusantara terbentang di garis 11 derajat Lintang Selatan. Suhu udaranya panas tropis, cocok untuk mereka yang menggilai wisata pantai.
Sebagian besar daratan di kepulauan Rote ini berupa tanah dengan berbatu karang menawan. Tidak banyak tanaman yang dapat tumbuh subur di pulau ini terutama di bagian utara dan selatannya yang berupa pantai dengan dataran rendah kecuali itu di bagian tengahnya terdapat lembah dan perbukitan.
Pulau Rote sendiri memiliki populasi sekitar 120.000 orang. Pulau ini dikawal oleh dua pulau yang lebih besar, yakni Timor di sebelah timur laut dan Sumba di sebelah barat. Pulau Rote begitu jauh dalam peta petualangan namun terasa sangat dekat ketika kaki telah berpijak di pelabuhan laut Kota Ba’a.
Kapal feri dari Kupang, Nusa Tenggara Timur melaju setiap hari ke Ba’a yaitu kota terbesar di Pulau Rote. Pulau ini memiliki pasir seperti tepung putih bersih. Keindahan pulau ini terus diperbincangkan petualang dan peselancar karena memiliki permukaan pulau yang berbukit yang diseimbangkan oleh padang sabana serta beberapa danau kecil layaknya laut mati.
Kawasan pantai ternama, yaitu Nemberala yang menjadi titik pencar para peselancar ke berbagai titik-titik selancar yang menantang lainnya. Berkiblat ke Laut Sawu di bagian baratnya, ia bagaikan alun-alun berpasir yang berhias pohon lontar subur berdiri walau saat musim kering panjang.
Meski tidak berselancar seperti para tamunya, masyarakat setempat tetap bersahaja dan penuh suka cita menerima dan memberi sapa dan salam kepada wisatawan dan petualang asing.
Pulau Rote atau disebut juga Pulau Roti, namanya kini kian mencuat di dalam halaman buku dan majalah petualangan serta perjalanan wisata.
T-Land yang berada di sebelah barat merupakan pulau seluas 1.200 km persegi dan dikenal sebagai salah satu penyedia ombak terpanjang di Indonesia yang menggulung ke arah kiri. Kecantikannya semakin sempurna dengan perpaduan antara lanskap alam dengan masyarakat petani dan nelayannya yang murah senyum. Warna-warni kedalaman air yang bervariasi telah melingkari kelopak-kelopak hutan hijaunya yang sulit dicari padanan keelokannya.
Walau jauh dari gegap gempita kota besar di berbagai penjuru tanah air tetapi Pulau Rote tidak terlalu jauh tertinggal untuk ketersediaan fasilitas wisata eksklusifnya. Namun demikian, kesederhanaan dan tradisi yang ditumbuh kembangkan dalam bentuk rumah adat tetap nampak dari bibir pantai hingga dataran tinggi di perbukitan. Kesamaan antara eksklusifitas dan kesahajaan ini bertumpu pada bahan bangunan yang sedianya berawal dari satu anugrah alam, yaitu pohon lontar untuk bahan tiang bangunan hingga atap yang melindunginya.
Restoran atau kafe di resort-resort lokasi peselancar dan petualang sengaja dihadapkan ke lautan lepas. Seraya bentangan alam yang hijau mengawali ketakjuban pengunjung saat melepaskan pandangannya ke arah persenyawaan warna biru dan hijau yang transparan. Hal itu karena lokasinya yang tak terhalang, suasana megah saat matahari meninggalkan cakrawala di atas lautan Sawu menjadi begitu spektakuler dan mengundang decak kagum.

Sumber : http://www.indonesia.travel/id/destination/663/-pulau-rote
Gambar : id.wikipedia.org
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

John Ndolu, Pahlawan Pendidikan dari Pulau Rote


Namanya belum banyak dikenal sebelum Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Mohammad Nuh, memberinya gelar Anugerah Peduli Pendidikan tanggal 12 Desember 2011 lalu. Johanes Barnabas Ndolu, seorang kepala suku (maneleo) Leo Kunak di Pulau Rote, tak pernah membayangkan bisa memperoleh penghargaan tersebut. Pria berumur 48 tahun yang akrab dipanggil John Ndolu itu dinilai memiliki kepedulian terhadap pendidikan di Kabupaten Rote Ndao, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Berkat pemikiran dan kerja kerasnya, kini John Ndolu telah memajukan pendidikan di pulau paling Selatan dari wilayah Indonesia itu.
John Ndolu Pendidikan Pulau Rote
Seperti umumnya di wilayah Timur Indonesia, di Pulau Rote juga ada tradisi pesta berhari-hari ketika ada yang menikah atau ada yang meninggal dunia. Pesta besar-besaran itu bisa menghabiskan dana mencapai ratusan juta rupiah untuk membeli beberapa kerbau/sapi yang akan dihidangkan selama berhari-hari. Meskipun sangat mahal, orang-orang rela menjual harta bendanya untuk menggelar pesta akbar itu demi menjaga nama keluarga besarnya. John Ndolu muda mulai berpikir bahwa apa yang dilakukan orang di Pulau Rote itu harus diubah. Menurut John Nd0lu, adat-istiadat harus dilestarikan namun sebaiknya tidak membelenggu masyarakatnya. John Ndolu merasa miris melihat orang-orang berjuang sekuat tenaga untuk menggelar pesta namun berat hati untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Sejak dikukuhkan sebagai seorang maneleo (kepala suku) pada 7 Juli 2003, John Ndolu mulai mewujudkan gagasannya untuk memperbaiki kondisi masyarakatnya. John Ndolu yang menjadi fasilitator pengembangan masyarakat Yayasan Wahana Visi Indonesia itu mulai memaparkan kondisi pendidikan di Pulau Rote. Faktanya, 50 persen penduduk Pulau Rote tidak bersekolah dan 11 persen dari seluruh penduduk Pulau Rote buta huruf. John Ndolu kemudian mengumpulkan semua tokoh adat di Pulau Rote untuk mensosialisasikan rencananya. John Ndolu ingin mengubah tradisi tu’u (semacam arisan) menjadi dana pendidikan bagi anak-anak Pulau Rote yang ingin melanjutkan kuliahnya.

Tradisi tu’u digelar dalam setiap pesta, di mana tamu yang datang harus mengisi daftar hadir dan jumlah dana yang akan disumbangkan untuk pesta selanjutnya. Ide John Ndolu ditentang banyak orang karena John Ndolu dinilai ingin menghapuskan adat istiadat, bahkan beliau dikucilkan oleh saudaranya sendiri karena gagasannya itu. Bertahun-tahun John Ndolu menjelaskan kepada semua orang bahwa ia tak akan menghapuskan tradisi tu’u, tapi hanya menghilangkan kebiasaan pesta-poranya saja. Akhirnya 19 kepala suku di Pulau Rote menyetujui rencana John Ndolu untuk mengurangi pesta pora dalam pesta dan menyisihkan dananya untuk tu’u pendidikan (arisan pendidikan). Semua kepala suku di Pulau Rote juga sepakat untuk menggelar pesta pernikahan dengan dana di bawah 10 juta rupiah dan hanya memotong satu ekor kerbau/sapi untuk upacara kematian.
John Ndolu Pendidikan Pulau Rote
Berkat pemangkasan dana penyelenggaraan pesta tersebut, masyarakat bisa menyumbangkan tu’u pendidikan bagi anak-anak Pulau Rote yang hendak kuliah. Dalam tu’u pendidikan, semua orang bisa menyumbang sesuai kemampuan masing-masing. Dana yang terkumpul kemudian diserahkan kepada anak-anak yang pantas menerimanya. Sejak tahun 2006, dana tu’u pendidikan telah digunakan untuk membantu 50 anak Pulau Rote dalam menempuh kuliahnya. Uniknya meskipun anak-anak Pulau Rote itu tidak diwajibkan kembali ke kampung halaman, setelah lulus kebanyakan dari mereka kembali dan bekerja di Pulau Rote. Mungkin karena merasa memiliki utang budi, mereka kemudian kembali ke Pulau Rote dan bekerja sebagai camat, guru, dan lain-lain.

Berkat John Ndolu dan seluruh masyarakat Pulau Rote, kini anak-anak Pulau Rote bisa mengecap pendidikan yang lebih baik.

Sumber : http://giewahyudi.com/john-ndolu-pahlawan-pendidikan-dari-pulau-rote/
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Surga di Pulau Rote

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak tempat wisata pantai yang indah. Salah satunya adalah Pulau Rote yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pulau yang terkenal dengan budaya lontarnya ini memiliki pemandangan alam yang memanjakan mata. Walaupun belum banyak wisatawan yang mengetahui tempat ini, sangat sayang melewatkan liburan di pulau ini.

Untuk menuju pulau ini, anda harus menempuh waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan kapal feri dari Kupang. Selama menyusuri tempat ini anda akan disuguhi pemandangan indah dengan pantai-pantai yang dikelilingi dengan pasir putih.

Sesampainya di Pulau Rote, jangan lewatkan kunjungan anda ke Nimberala. Nimberala adalah sebuah desa kecil yang letaknya di barat daya Pulau Rote. Pantainya yang Indah dengan hamparan pasir putih dengan suasana yang sepi cocok untuk melepas kejenuhan akibat rutinitas sehari-hari dan disini dan di daerah ini biasanya di jadikan tempat untuk berselancar.

Pantai Oeseli yang masih berada di Pulau Rote memiliki terumbu karang yang sangat bagus. Pantai di daerah ini sangat bersih dan memanjakan mata. Selain itu ada juga pantai bakau yang bernama Famo'ok. Pantai yang dipenuhi dengan pohon-pohon bakau dengan dasar pasir putih, airnya tenang dan juga jernih. Dan dari sini anda bisa melihat Pulau Ndana, yakni pulau paling selatan Indonesia dari kejauhan.[ra/timBX]

 

Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE

Bank Indonesia Kembangkan UMKM di Wilayah Perbatasan

WILAYAH perbatasan sebagai wilayah terdepan memiliki posisi yang strategis. Keberadaan wilayah perbatasan ibarat halaman depan di rumah kita yang perlu dirawat dan dijaga agar dalam keadaan baik dan menarik. Upaya untuk menjaga keberadaan perbatasan ini menjadi menarik karena menyangkut begitu banyak aspek, salah satunya adalah aspek ekonomi.

Dengan posisinya yang unik, umumnya wilayah ini terisolasi, minim sarana dan prasarana serta keterbatasan akses. Terlepas dari kondisi diatas, disadari bahwa wilayah perbatasan memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan dan mampu mendukung kesejahteraan masyarakat dan akhirnya perkembangan ekonomi wilayah tersebut. Berangkat dari kondisi tersebut, Bank Indonesia mellihat bahwa upaya untuk mendukung keberadaan wilayah perbatasan perlu dikembangkan.

Tidak hanya penyediaan alat pembayaran yang perlu disiapkan, tetapi juga pengembangan kegiatan ekonomi yang menjadi landasan penggunaan alat pembayaran tersebut. Pada tahap awal terdapat tujuh wilayah perbatasan dan terpencil yang dipandang potensial untuk dikembangkan.

Dari ketujuh wilayah tersebut, empat wilayah telah dilakukan koordinasi dengan stakeholder terkait mengenai produk potensial yang perlu dikembangkan dan upay pengembangannya yaitu wilayah perbatasan dan terpencil yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Maluku Utara.

Sementara di ketiga wilayah lain masih berupa tahap kajian untuk pengembangannya. Dengan melihat kondisi UMKM di empat wilayah tersebut dan juga upaya pengembangan yang telah dilakukan, dirasakan perlu upaya pengembangan UMKM yang berkesinambungan dan mampu menjangkau tataran hulu sampai hilir walaupun masih dalam taraf yang sederhana sesuai dengan kondisi perbatasan.

Untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur, wilayah yang menjadi sasaran adalah Kabupaten Belu, dengan program yang dikembangkan adalah penggemukan sapi potong. Pengembangan wilayah perbatasan di Provinsi Maluku Utara difokuskan pada Kabupaten Pulau Morotai dengan potensi kelautan yaitu rumput laut. Di Provinsi Kalimantan Timur, komoditi rumput laut juga menjadi pilihan untuk dikembangkan dengan melihat potensi wilayah Kabupaten Nunukan yang berdekatan dengan pantai.

Sebanyak dua kelompok dengan total anggota sekitar 15 orang dibina bersama Dinas Kelautan setempat. Dalam pengembangan rumput laut di wilayah ini diawali dengan merintis pembuatan demplot rumput laut. Pembuatan demplot ini sebagai suatu pendekatan agar nelayan percaya bahwa pendekatan baru yang ditawarkan lebih produktif dibandingkan dengan metode long line.

Sementara di Provinsi Kalimantan Barat, produk yang dikembangkan adalah kerajinan Bidai di Kabupaten Bengka yang menggunakan bahan baku rotan. Upaya pengembangan difokuskan dengan membina kelompok dengan menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat untuk membantu pendampingan, produksi dan pemasaran. Selanjutnya untuk menjaga pasokan bahan baku rotan dan kelestarian lingkungan dikembangkan pula bibit tanaman rotan di hutan lindung.

Dari tanaman rotan yang berkembang ini kemudian penduduk mengambil bijinya untuk dikembangkan di wilayah lain sehingga sebagai pasokan bibit tetap terjaga. Di sadari upaya yang dilakukan tersebut baru pada tahap rintisan, upaya pengembangan sehingga kelompok-kelompok yang dibina menjadi mandiri masih membutuhkan waktu dan dukungan dari stakeholder terkait lainnya.

Untuk itu ruang kerjasama dalam upaya pengembangan ekonomi perbatasan yang telah dirintis tersebut terbuka bagi setiap pihak untuk ikut ambil bagian dan berperan serta secara nyata bagi anak bangsa yang berada di wilayah perbatasan ini.

Oleh: Noviarsano Manulang, Analis Madya Bank Indonesia  
More http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/03/47693/Bank-Indonesia-Kembangkan-UMKM-di-Wilayah-Perbatasan-
Source » http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1iqMzJQhE